Balita · Bayi · Keluarga

5 Tanda Anak Kurang Gizi dan Cara Mengatasinya

 

tanda anak kurang gizi
tanda anak kurang gizi (malnutrisi)

 

Memenuhi asupan gizi pada anak sangat penting dilakukan sejak dia masih balita. Pemberian makanan yang bergizi sangat bermanfaat bagi pertumbuhan fisik maupun pertumbuhan kecerdasan.

Banyak orang tua yang abai dan memberi makan anaknya dengan ala kadarnya. “Yang penting kenyang, urusan bergizi atau tidak itu bisa nanti.”

Prinsip ini yang seharusnya tidak dipegang oleh para orang tua. Salah memberi makan maka akan berakibat anak kurang gizi. Memberi makan asal-asalan bisa-bisa akan membuat anak menderita gizi buruk.

Baca: Jangan makan asal kenyang, ini cara menerapkan gizi seimbang.

Gizi anak balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) Kementerian Kesehatan 2010, jumlah keseluruhan balita yang mengalami berat badan kurang dan sangat kurang sebesar 17,9 persen (berat badan/umur).

Jumlah keseluruhan kondisi balita kurus dan sangat kurus 13,3 persen (berat badan/tinggi badan-panjang badan), kegemukan 14 persen (berat badan/tinggi badan-panjang badan), dan pendek dan sangat pendek 35,6 persen (tinggi badan/umur).

Permasalahan gizi di Indonesia bisa dikategorikan menjadi dua macam yaitu gizi kurang (sering disebut kurang gizi) dan gizi buruk.

Kita sebagai orang tua sebaiknya mengetahui dan mempelajari apa dan bagaimana cara mengatasi kurang gizi maupun gizi buruk tersebut.

Tanda Kurang Gizi

Seorang balita dinyatakan menderita kurang gizi jika indeks antropometri (perhitungan berat badan dibagi tinggi badan) berada pada kisaran -3 SD s.d. -2 SD (WHO,2009). Tabel berat dan tinggi badan ideal bayi.

Petugas gizi biasanya sudah bisa mengenali tanda-tanda seorang balita menderita kurang gizi. Tanda-tanda kurang gizi tersebut seperti:

  • Dua bulan berturut-turut tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai standar
  • Terlihat kurus
  • Edema (bengkak) minimal pada kedua punggung kaki
  • Garis pertumbuhan mengarah ke BGM (bawah garis merah) pada KMS (baca: Jangan Sepelekan KMS Balita Anda).
  • LiLA (lingkar lengan atas) kurang dari 12,5 cm

Menurut Dr. Sri Kurniati M.S. dokter ahli gizi medik rumah sakit anak dan bersalin Harapan Kita, seperti dikutip dari DokterSehat.com, kondisi kurang gizi pada anak terbagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, kurang gizi akibat kurang energi protein ringan. Pada kondisi ini tidak terlihat tanda-tanda tertentu pada anak jika dia mengalami kurang gizi. Tetapi jika dilihat dari berat badan, berat badan anak hanya 80 persen dari berat badan ideal.

Kedua, kurang gizi akibat kurang energi protein sedang. Kondisi kurang gizi ini sudah dapat dilihat tanda-tandanya seperti wajah puca dan rambut berubah menjadi agak kemerah-merahan. Berat badan pun hanya mencapai 70 persen dari berat badan ideal.

Ketiga, kurang gizi akibat kurang energi protein berat (gizi buruk). Kondisi kurang gizi ini sering didengar dengan istilah Marasmus dan Kwashiorkor.

Marasmus adalah kondisi kurang gizi yang berat dimana berat badan anak hanya mencapai 60 persen dari berat badan ideal.

Sedangkan Kwashiorkor, kurang gizi tidak hanya terlihat pada berat badan yang kurang tetapi juga terlihat tanda-tanda fisik jika mengalami kurang gizi yang berat seperti kaki bengkak, rambut merah dan mudah dicabut. Mata rabun karena kekurangan vitamin A, kornea kering dan pada kondisi tertentu korneo menjadi borok dan mata menjadi pecah.

Selain itu, anak yang menderita kurang gizi berat akan mudah terserang penyakit seperti anemia, infeksi, diare, kulit kering dan pecah-pecah, dan pecah-pecah pada sudut mulut.

Penyebab Kurang Gizi

Kurang gizi disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi. Atau disebabkan oleh terdapat penyakit infeksi yang mengganggu pertumbuhan.

Berikut faktor penyebab kurang gizi pada anak:

Pertama, jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua terlalu dekat. Baca: Sebaiknya hamil lagi setelah 1000 hari kelahiran pertama, kenapa? Jika terlalu dekat, maka perhatian kita sebagai orang tua akan terpecah dan tidak fokus pada satu anak.

Kehadiran anak kedua membuat anak pertama tidak terurus dan tidak diperhatikan makannya. Makan yang asal-asalan akan membuat anak kurang gizi. Juga karena sudah lelah mengurus si adik, tidak ada waktu dan tenaga lagi untuk mengurus si kakak yang juga butuh perhatian.

Kedua, lingkungan rumah tempat anak bermain kurang bersih sehingga mudah terserang penyakit. Anak yang sering sakit menyebabkan tubuhnya kekurangan asupan gizi.

Ketiga, pengetahuan orang tua kurang mengenai gizi. Orang tua terkadang abai terhadap asupan gizi kepada anaknya. Makan seadanya dan asal kenyang. Padahal makanan yang mengenyangkan belum tentu bergizi. Makanan yang mahal juga belum tentu mengandung zat yang baik bagi tubuh anak.

Keempat, kondisi ekonomi juga sangat mempengaruhi asupan gizi bagi anak. Keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi kurang cenderung kurang memperhatikan asupan gizi bagi anaknya.

Cara Mengatasi Kurang Gizi

Mengatasi kurang gizi sangat memerlukan peran orang tua. Keberhasilan proses pemulihan kondisi anak yang mengalami kurang gizi sangat bergantung pada peran orang tua.

Solusi utama tentu dengan memberi asupan gizi yang baik kepada bayi. Asupan makanan ini harus lebih bergizi dibandingkan makanan yang biasa diberikan sebelumnya.

 Cara mengatasi anak yang kurang gizi antara lain:

Pertama, memberi makanan utama untuk proses pemulihan yang padat gizi. Makanan ini berupa karbohidrat (nasi, singkong, dll), protein (hewani dan nabati), serta lemak. Makanan sedikitnya mengandung 350 kkal dengan protein 15 gram yang diberikan selama 90 hari.

Kedua, memberi makanan tambahan kepada bayi sebagai pendamping ASI yang mengalami kurang gizi untuk umur maksimal dua tahun. ASI atau pengganti air susu ibu (PASI) memiiki kepadatan energi 0,7 kkal/gram, makanan pendamping ASI (MP-ASI) memiliki kepadatan 1kkal/gram.

Makanan biasa rata-rata mengandung kepadatan energi 1,5 kkal/gr sedangkan makanan padat energi harus memiliki kepadatan energi >1,5 kkal/gr.

Baca: Tips memberi MP-ASI pertama balita anda

Ketiga, melakukan konsultasi kepada Puskesmas atau klinik terdekat untuk mengetahui makanan apa saja yang sebaiknya diberikan kepada bayi. Konseling bisa seputar ASI, MP-ASI, dan PMT. Juga orang tua harus rajin mengikuti posyandu.

Keempat, jika dalam dua bulan tidak ada kenaikan berat badan atau masih dibawah garis merah, lakukan konsultasi khusus kepada ahli gizi.

Pemulihan status gizi kurang pada balita sebaiknya difokuskan pada pemberian makanan utamanya baru kemudian pada makanan tambahan.

Pemberian makan juga harus diatur agar proses pemulihan bisa berjalan optimal. Berikut contoh jadwal pemberian makanan yang optimal kepada bayi:

Pukul 06.30 : makan pagi 20%

Pukul 09.30 : snack pagi 10%

Pukul 12.30 : makan siang 30%

Pukul 15.30 : snack sore 30%

Pukul 18.30 : makan malam 20%

Pukul 12.30 : snack malam 10%

Makanan tambahan diberikan pada waktu pemberian makanan selingan (snack), sehingga tidak mengganti makanan utama. Jangan sampai anak tidak mau makan makanan utama dan justru menghabiskan makanan selingan saja.

Selain makanan, orang tua juga bisa memberi suplemen kepada balita agar proses rehabilitasi kurang gizi dapat optimal. Suplemen untuk mengatasi gizi kurang tersebut diantaranya:

  • Vitamin A

Suplemen vitamin A diberikan susuai umur. Jika ditemukan tanda-tanda xerophtalmia atau campak dala tiga bulan terakhir makan suplemen vitamin A diberikan pada hari 1,2, dan 15 penanganan.

  • Vitamin B komplek

Suplemen ini bisa diberikan setiap hari dan vitamin C 50 mg/hari sampai indikator berat badan/tinggi badan lebih dari -2 Z-score/SD

  • Vitamin Asam Folat

Suplemen asam folat diberikan sebanyak 5 mg pada saat penanganan pertama kali dan selanjutnya berikan 1 mg/hari sampai indikator berat badan/TB lebih dari -2 Z-score/SD

  • Suplemen Zinc (Zn)

Suplemen Zin sebaiknya juga diberikan kepada balita penderita kurang gizi baik yang berupa sirup atau tablet sebanyak 10 mg/hari sampai indikator berat badan/TB lebih dari -2 Z-score/SD

Kurang lebih seperti di atas langkah-langkah mengatasi anak yang kurang gizi. Semoga kita sebagai orang tua tidak lagi abai pada anak kita ya bunda. Beri dia makanan yang sehat dan bergizi.

Bagaimana cara mengatasi balita yang mengalami gizi buruk? Artikel selanjutnya akan kita bahas mengenai tanda-tanda gizi buruk dan cara mengatasinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s